Sabtu, 24 Januari 2015

Misteri Bukit Barisan dan Ajaran Monotheisme Nabi Ibrahim

Di daerah sekitar Pagar Alam, Sumatera Selatan, ditemukan sebuah arca menhir yang diperkirakan berasal dari masa 2.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Uniknya arcatersebut terlihat seperti orang sedang duduk tahiyat, kebetulan arahnya juga ke kiblat.
Muncul berbagai spekulasi sejarah, tentang keberadaan arca yang mirip orang melakukangerakan shalat ini.
Arca Sedang Shalat
Mungkinkah ini adalah bukti bahwa, dakwah Nabi Ibrahim dari masa ribuan tahun yang lalu, telah sampai ke Nusantara ?
Apakah ini, bisa dimaknai bahwa telah ada jalinan komunikasi antaraNusantara dengan Timur Tengah, ribuan tahun yang silam?
Benarkah salah satu istri Nabi Ibrahim, yang bernama Qatura/Keturah adalah keturunan Nusantara ?
Prasasti Talang Tuwo
Bangsa Pegunungan Bukit Barisan
Terlepas dari semua spekulasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa di sepanjang pegunungan bukit barisan (dari Gunung Dempo Pagar Alam, sampai ke utara sekitar daerah Gunung Merapi), ribuan tahun yang silam, telah di-diami oleh bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi.
Bangsa Pegunungan Bukit Barisan ini dikenali sebagai Bangsa Gunung atauBangsa MalayuBangsa Malayu inilah, konon merupakan asal bangsa daripada Qaturah (istri Nabi Ibrahim), kelak melalui anaknya Midian (Madian) bin Nabi Ibrahim, melahirkan Bangsa Media (Madyan).
Salah satu tokoh Bangsa Media (Madyan) yang terkenal adalah Nabi Syu’aib, yang merupakan salah satu dari 25 Nabi yang namanya terdapat di dalam Al Qur’an. Dan Nabi Syu’aib dikenal juga, sebagai mertua dari Nabi Musa(silahkan baca (Connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim?).
Tambo Alam Minangkabau mencatat, sekelompok orang dari Tanah Basa, telah datang keGunung Merapi. Kelompok ini dipimpin oleh Daputa Hyang, yang  kemungkinan berasal dariBangsa Media (Madyan), dimana sebelumnya telah mendiami Lembah Indus India.
Daputa Hyang bukanlah pemeluk Syiwabudhis seperti dugaan orang. Beliau kemungkinan menganut ajaran Braham (ajaran monotheime peninggalan Nabi Ibrahim, silahkan baca Asal Muasal Shalat disebut Sembahyang). Kelak dari keturunan Daputa Hyang ini, akan muncul Sri Jayanaga, pendiri kerajaan terbesar Bangsa Malayu, yang dikenal dengan nama Kerajaan Sriwijaya.
WaLlahu a’lamu bishshawab
Referensi :

S

Misteri Bukit Barisan dan Ajaran Monotheisme Nabi Ibrahim

Di daerah sekitar Pagar Alam, Sumatera Selatan, ditemukan sebuah arca menhir yang diperkirakan berasal dari masa 2.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Uniknya arcatersebut terlihat seperti orang sedang duduk tahiyat, kebetulan arahnya juga ke kiblat.
Muncul berbagai spekulasi sejarah, tentang keberadaan arca yang mirip orang melakukangerakan shalat ini.
Arca Sedang Shalat
Mungkinkah ini adalah bukti bahwa, dakwah Nabi Ibrahim dari masa ribuan tahun yang lalu, telah sampai ke Nusantara ?
Apakah ini, bisa dimaknai bahwa telah ada jalinan komunikasi antaraNusantara dengan Timur Tengah, ribuan tahun yang silam?
Benarkah salah satu istri Nabi Ibrahim, yang bernama Qatura/Keturah adalah keturunan Nusantara ?
Prasasti Talang Tuwo
Bangsa Pegunungan Bukit Barisan
Terlepas dari semua spekulasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa di sepanjang pegunungan bukit barisan (dari Gunung Dempo Pagar Alam, sampai ke utara sekitar daerah Gunung Merapi), ribuan tahun yang silam, telah di-diami oleh bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi.
Bangsa Pegunungan Bukit Barisan ini dikenali sebagai Bangsa Gunung atauBangsa MalayuBangsa Malayu inilah, konon merupakan asal bangsa daripada Qaturah (istri Nabi Ibrahim), kelak melalui anaknya Midian (Madian) bin Nabi Ibrahim, melahirkan Bangsa Media (Madyan).
Salah satu tokoh Bangsa Media (Madyan) yang terkenal adalah Nabi Syu’aib, yang merupakan salah satu dari 25 Nabi yang namanya terdapat di dalam Al Qur’an. Dan Nabi Syu’aib dikenal juga, sebagai mertua dari Nabi Musa(silahkan baca (Connection) Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim?).
Tambo Alam Minangkabau mencatat, sekelompok orang dari Tanah Basa, telah datang keGunung Merapi. Kelompok ini dipimpin oleh Daputa Hyang, yang  kemungkinan berasal dariBangsa Media (Madyan), dimana sebelumnya telah mendiami Lembah Indus India.
Daputa Hyang bukanlah pemeluk Syiwabudhis seperti dugaan orang. Beliau kemungkinan menganut ajaran Braham (ajaran monotheime peninggalan Nabi Ibrahim, silahkan baca Asal Muasal Shalat disebut Sembahyang). Kelak dari keturunan Daputa Hyang ini, akan muncul Sri Jayanaga, pendiri kerajaan terbesar Bangsa Malayu, yang dikenal dengan nama Kerajaan Sriwijaya.
WaLlahu a’lamu bishshawab
Referensi :

Hadits Nabi, Negeri Samudra dan Palembang Darussalam

Di dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai, terdapat sebuah hadits yang menyebutkan Rasulullah menyuruh para sahabat untuk berdakwah di suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian hari.
“…Pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda Nabi: “Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau (menyediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu) masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala Wali Allah jadi dalam negeri itu“….
Kaum sejarawan Melayu memperkirakan negeri samudra yang dimaksud adalah Kerajaan Samudra Pasai (Sumber : Nama Sumatra Telah Dikenal Sejak Zaman Rasulullah,Kedatangan Islam dan Penyebarannya di Indonesia), namun pendapat ini bukan tidak ada kelemahan, hal ini dikarenakan Kerajaan Samudra Pasai baru muncul 600 tahun setelah wafatnya Rasulullah.
Muncul dugaan negeri yang dimaksud adalah sebuah negeri maritim yang dikelilingisamudra, yang mencapai masa ke-emasan sekitar 50 tahun setelah wafatnya beliau,yang dikenal dengan nama Sriwijaya.
Sriwijaya dan Dakwah Islam
Terlepas apakah memiliki hubungan dengan keberadaan  Hadis Rasulullah maupun tidak, Nusantara (yang merupakan daerah dikelilingi Samudra), telah  dijadikan lahan  dakwah, di masa ketika Rasulullah masih hidup.
Hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya nisan  Syeikh Rukunuddin di Barus (Fansur), yang diperkirakan merupakan salah seorang sahabat Rasulullah.
Dan ketika negeri maritim, (Sriwijaya) muncul, dakwah Islamiyah semakin di-intensifkan lagi. Salah satu bukti tertulis, adalah ditemukannya surat, yang berisikan korespodensi antaraRaja Sriwijaya dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pada sekitar tahun 100H (Sumber : Sriwijaya Pintu Masuk Islam ke Nusantara).
Palembang, Kota Darussalam
Sekitar tahun 1993, Pierre-Yves Manguin melakukan observasi dan berpendapat bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak diKota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan).
Di dalam sejarahnya, Palembang banyak melahirkan Ulama dan Para Wali ALLAH. Telah sama kita pahami, saat berdiri Kerajaan Demak (Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa), yang menjadi sultan pertama adalah putera kelahiran Palembang, yang bernama Raden Fatah (Sumber : Palembang dari nama Cina, menjadi negeri Darussalam).
Selain itu Palembang merupakan daerah yang untuk pertama kalinya diterapkan undang-undang tertulis yang berlandaskan syariat Islam bagi masyarakat Nusantara. Hal tersebut sebagaimana tercantum di dalam kitab Simbur Cahaya, yang disusun oleh Ratu Sinuhun (Sumber : Ratu Sinuhun, Feminis Nusantara dari abad ke-17M).
Di sekitar Palembang, pada sekitar tahun 1650 M (1072 H), di pelopori Syech Nurqodim al Baharudin (Puyang Awak), pernah berkumpul sekitar 50 alim ulama dari berbagai daerah, seperti dari Kerajaan Mataram Islam, Pagaruyung, Malaka dan lain sebagainya, yang menghasilkan beberapa keputusan, diantaranya memunculkan perluasan dakwah Islam di Nusantara (Sumber : Mengapa Nederland disebut Belanda).
Dan di daerah ini juga melahirkan seorang ulama terkemuka Syech Abdul Shomad Al Palimbani (1704-1789), yang merupakan Ulama Melayu yang paling menonjol di abad ke-18M.
Melalui karyanya fi Fadha’il Al-Jihad, telah menjadi sumber utama berbagai karya tentang jihad dalam Perang Aceh, selain itu beliau juga diketahui menulis beberapa surat, kepada Para Penguasa di Nusantara, untuk melakukan perang suci terhadap kaum kolonial. (Sumber : Abdus Samad al-Palimbani).
Dan daftar nama akan semakin panjang, apabila Para Ulama dan Wali ALLAH yang berasal dari wilayah lain (di luar Palembang Darussalam) di-ikut sertakan, seperti : Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaka dan lain sebagai-nya (yang dahulunya juga termasuk di dalam Kedatuan Sriwijaya).
Mungkinkah Negeri Samudra, yang dimaksud Rasulullah adalah Sriwijaya, yang berpusat di sekitar Sungai Musi ?
WaLlahu a’lamu bishshawab
Catatan :
1. Ahli Sejarah, biasanya meng-informasikan…
Rasulullah wafat, sekitar tahun 632 M
– Sriwijaya berdiri, sekitar tahun 500 M s.d 670 M, 
- Samudra Pasai berdiri, sekitar tahun 1267 M
Sriwijaya yang usianya 600 tahun lebih tua daripada Samudra Pasai, logisnya tentu lebih dahulu memeluk Islam…
Untuk sama dipahami, di wilayah Aceh sebelum Kerajaan Samudra Pasai, kita mengenal keberadaan Kerajaan Jeumpa, dan dipesisir Barat pulau Sumatera, kita mengenal Kota Pelabuhan Barus
Kemungkinan wilayah Jeumpa, Barus dan Sriwijaya merupakan negeri-negeri awal masuknya Islam di Nusantara (silahkan kunjungi : Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara)…
Akan tetapi, dari ketiga negeri ini, yang dikenal memiliki wilayah yang cukup luas dan disebut sebagai Nagara Maritim (Samudra) terbesar adalah Kerajaan Sriwijaya
2. Kemaharajaan Sriwijaya telah ada sejak 671 M sesuai dengan catatan I Tsing, sementara dari Prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 M diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Jayanasa.
Diperkirakan pada sekitar tahun 500 M, akar cikal bakal Kerajaan Sriwijaya sudah mulai berkembang di sekitar wilayah Bukit Siguntang.
Dan masa ke-emasan Sriwijaya, sebagai negara maritim terbesar di Asia Tenggara, terjadi pada abad ke-9 M. Pada masa itu, Sriwijaya telah menguasai di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain: Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Filipina.
Sriwijaya juga men-dominasi Selat Malaka dan Selat Sunda, yang menjadikan-nya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal.

56 Komentar »

  1. Hadist ini diriwayatkan oleh siapa? Terdapat di dalam kitap apa? Bagaimana kedudukan hadist ini? Mohon penjelasannya, terima kasih.
    Komentar oleh Yudhy Kurniawan | 21 Juni 2012 | Balas
    • Hadits tersebut bukan berasal dari Kitab Hadits, melainkan dari tutur kata turun menurun bangsa Melayu…
      Mungkin untuk mencari kedudukan sanadnya, agak rumit…
      Komentar oleh kanzunQALAM | 21 Juni 2012 | Balas
      • Jangan (menggunakan kata) mungkin…. Artinya anda meriwayatkan hadis dari orang melayu di sumatera yg belum tentu kesahihannya. Ketemu tidak ketemu, pokoknya harus dicari riwayatnya oleh ahli hadis atw ulama. Titik.
        Komentar oleh Kartto | 21 Juni 2012
      • saya setuju…
        perlu adanya penelitian yang mendalam…
        berkenaan dengan riwayat hadits negeri samudra tersebut…
        Komentar oleh kanzunQALAM | 21 Juni 2012
      • Siapa berkata dusta akan hal Nabi SAW dia tanggung dosanya. Gimn kalau itu adalah benar? Aku yakin penulis zaman silam tidak pernah dusta tentang hal agama. Cumannya tertib penulisan Melayu gak bisa dibanding dengan Arab yang terkenal menjaga silsilah keturunan.
        Komentar oleh Jasnie Salim | 22 September 2012
    • Dear Bang KanzunQALAM…
      Sekedar masukan (sekaligus peringatan) aja bang, kalo abang ingin memasukkan hadist di dalam sebuah artikel, hendaknya abang harus mengetahui kedudukan hadist tersebut, jangan asal posting aja. Sebab kedudukan hadist sangat penting bagi setiap muslim. Hadist merupakan sumber hukum bagi Islam setelah Al Qur’an. Memasukkan hadist ke dalam suatu artikel tanpa didasari sumber riwayat dan keshahihannya dapat menjadi fitnah yang besar di kalangan muslim dan itu termasuk DOSA BESAR.
      Kalo abang ingin mengkaitkan atau menghubungkan Palembang dengan Islam maka hendaknya abang mengkaitkan dari sisi sejarah. Misal bagaimana cara Islam masuk di Palembang? Atau bagaimana cara berkembangnya Islam di Palembang? Jangan mengkaitkan dengan hadist apalagi hadist tersebut diragukan atau sumber riwayatnya tidak jelas.
      Terima kasih.
      Komentar oleh Yudhy Kurniawan | 26 Juni 2012 | Balas
      • Sebelumnya saya berterima kasih atas kritiknya…
        Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam istilah hadits berarti melaporkan/ mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad…
        Dengan demikian istilah Hadits dalam artikel di atas sudah benar,yang menjadi persoalan apakah Hadits tersebut sanadnya menyambung apa tidak… ???
        Dan jika dikatakan, Hadits diatas tidak ada asal usulnya, juga keliru. Sumbernya adalah berasal dari tutur kata, secara turun menurun bangsa Melayu, yang kemudian ditulis di dalam Naskah-Naskah Melayu (Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai)…
        Dan perlu dipahami, Hadits ini bukanlah hadits yang membahas tata cara beribadah, namun hanya berupa riwayat tentang akan adanya sebuah negeri, yang di-istilahkan sebagai Negeri Samudra…
        Dan jika kita membaca sejarahnya, Hadits ini bermula dari Syekh Ismail, seorang pejuang Islam, beliau rela mengorbankan jiwa, raga dan hartanya dalam medan dakwah yang sangat keras…
        Dengan demikian, Hadits tersebut jauh dari tujuan untuk menfitnah terhadap ajaran Islam, bahkan pada kenyataannya, telah menyemangati para pendakwah Islam, dalam penyebaran Islam di Nusantara…
        Namun terlepas dari itu semua, saya sangat setuju diadakan penelitian yang mendalam tentang keberadaan Hadits ini, terutama Para Ulama, Ahli Hadits dengan bekerja sama dengan Para Cendikiawan di bidang Sejarah. Dan hal ini adalah salah satu alasan, mengapa artikel ini ditulis…
        WaLlahu a’lamu bishshawab
        Komentar oleh kanzunQALAM | 26 Juni 2012
      • Maaf masbro, numpang sedikit komen.
        Sedikit menambahi komentar mas Yudhy Kurniawan, saya terus terang juga sependapat dengan pentingnya kita mengetahui kesahihan sebuah hadits sebelum menceritakannya atau mengungkapkannya pada orang lain. Dan, penelitian tentang hadits sudah ada dan dilakukan sejak zaman sahabat hingga sekarang. Buanyak sekali ulama-ulama hadits dari dulu hingga sekarang, yang sudah meninggal, maupun yang masih hidup. Jadi, pemisahan antara hadits-hadits yang sahih dan tidak sahih terus terjaga sepanjang zaman, dan ini merupakan bagian bentuk penjagaan Allah terhadap al Qur’an itu sendiri.
        Sekarang misalnya pakai logika saja, kalau kita mengucapkan sesuatu, lalu orang lain menyampaikan kepada yang lain, dan seterusnya, kemudian sampai di telinga kita lagi, perkataan kita telah berubah, bagaimana tanggapan kita? Apakah kita bisa menerimanya? Nah, ini bukan manusia biasa yang berbicara, melainkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang muslim wajib beradab kepada beliau, termasuk menjaga agar jangan sampai kita menyampaikan perkataan orang namun dinisbatkan kepada beliau.
        Siapapun yang membawakan sebuah hadits, sesholih apapun dia, sehebat apapun kemampuannya, kita tidak bisa langsung mempercayai bahwa hadits yang dia bawakan adalah benar. Ada segudang penelitian yang musti dilakukan untuk mengecek kesahihan hadits yang dibawakannya, dan itu sudah ada disiplin ilmunya. Berapa banyak orang sholih yang dikatakan sebagai “kadzdzaab” (pendusta) oleh ulama’ karena kekurangannya dalam membawakan hadits (bukan berarti orang sholih tersebut jadi gak sholih, tapi maksudnya, penyeleksian hadits itu sangat ketat). Padahal yang disampaikan bukan bertujuan untuk memfitnah Islam. Boro-boro, wong yang menyampaikan itu orang sholih.
        Demikian masbro, sedikit komen dari saya. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Mohon coba cek ke sini sebagai referensi:
        dan http://yufid.com untuk pencarian konten-konten bermanfaat lainnya.
        *Mohon maaf kalo kedetect sebagai spam. Bukan spammer/promosi, hanya memberikan link-link yang dirasa perlu.
        Komentar oleh aboeilyas | 12 September 2012
  2. Menarik. Bagaimana dengan konstatinopel? Nabi juga menyebut sebuah kota yang berada di lautan.
    Komentar oleh eko hariyanto | 21 Juni 2012 | Balas
    • Apakah konstantinopel, melahirkan banyak wali ALLAH ?
      Perlu diteliti lebih mendalam…
      Komentar oleh kanzunQALAM | 21 Juni 2012 | Balas
  3. artikel yang menarik. tapi maaf, kalau untuk meriwayatkan suatu hadits itu setau saya harus diteliti dulu keshahihannya. supaya terhindar dari bentuk mengatakan sesuatu yang seolah-olah itu dari Rosulullah padahal bukan.
    afwan. :)
    Komentar oleh fakhira27 | 22 Juni 2012 | Balas
    • saya setuju…
      Dan salah satu sebab sulitnya, untuk meneliti keshahihan Hadits Negeri Samudra…
      dikarenakan hadits ini, tidak berasal dari kitab-kitab Hadits, seperti Bukhari dan Muslim.
      Melainkan berasal dari Naskah-Naskah Melayu Lama…
      Kita berharap, mudah2an Para Ulama dan Cendikiawan, bisa tergerak untuk menyelidiki Hadits ini, secara lebih mendalam…
      Komentar oleh kanzunQALAM | 26 Juni 2012 | Balas
      • subhanlloh, bijak sekali kawan,,, lanjutkan…
        Komentar oleh lepep | 3 Agustus 2012
  4. Assalamualaikum Wr.. Wb..
    Didalam buku tulisan Ibnu Abdul Rabbih (860-940 M) berjudul Al Iqd al Farid (“Kalung Istimewa”) Terdapat Surat dari Maharaja Sriwijaya, Sri Indrawarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz,(717 M – 99 M) :
    ” Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku”.
    Ibnu Taghribirdi dalam bukunya al Nujum al Zahirah fi Muluk Misr wa al Qahirah (“Perbintangan Terang Raja Mesir dan Kairo”) mempunyai tambahan untuk akhir surat kepada Khalifah Umar tersebut: “Saya mengirim hadiah jebat (musk), batu ratna, dupa dan barus. Terimalah dari saudara Islammu.”..
    Saya hanya memberikan sebuah bukti otentik prihal hubungan Sriwijaya dan Islam…
    silahkan anda yang menentukan kebenarannya
    Komentar oleh Dicky Aditya | 22 Juni 2012 | Balas
  5. Kehadiran muslim Timur Tengah, yang kebanyakan berasal dari Arab dan Persia di Nusantara, bisa diselusuri melalui catatan pengembara terkenal Cina, I-Tsing, ketika ia pada sekitar tahun 671 M, dengan menumpang kapal Arab dan Persia dari Kanton berlabuh di pelabuhan di Muara Sungai Bhoga (atau Sribhoga, atau Sribuza, yang sekarang dikenal sebagai Sungai Musi). (Sumber : I-Tsing (634-713), A Record of the Buddhist Religion as Practiced in India and the Malay Archipelago, terj. J. Takakusu, Oxford : Claredon Press, 1896, XXXIV. Riwayat lengkap I-Tsing tentang Sriboga dengan anotasi dari Takakusu terdapat pada XI-XIVI. lihat pula, Hourani, Arab Seafaring, 62; Hasan, Persian Navigation, 119-120).
    HUBUNGAN MUSLIM NUSANTARA DENGAN TIMUR TENGAH
    Komentar oleh Panji Negeri | 23 Juni 2012 | Balas
    • Pada sekitar awal abad ke 8, orang-orang Persia Muslim mulai berdomisili di Sriwijaya akibat mengungsi dari kerusuhan Kanton. Dalam perkembang selanjutnya, pada sekitar tahun 717 M, diberitakan ada sebanyak 35 kapal perang dari dinasti Umayyah dengan hadir di Sriwijaya, dan semakin mempercepat perkembangan Islam di Sriwijaya (Sumber : Sejarah Umat Islam; Karangan Prof. Dr. HAMKA).
      Ditenggarai karena pengaruh kehadiran bangsa Persia muslim, dan orang muslim Arab yang banyak berkunjung di Sriwijaya, maka raja Srivijaya yang bernama Sri Indravarman masuk Islam pada tahun 718M (Sumber : Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang; Karangan H Zainal Abidin Ahmad, Bulan Bintang, 1979).
      Sehingga sangat dimungkinkan kehidupan sosial Sriwijaya adalah masyarakat sosial yang di dalamnya terdapat masyarakat Buddha dan Muslim sekaligus.
      Tercatat beberapa kali raja Sriwijaya berkirim surat ke khalifah Islam di Syiria. Bahkan disalah satu naskah surat adalah ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720M) dengan permintaan agar kholifah sudi mengirimkan da’i ke istana Srivijaya (Sumber : Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nsantara abad XVII & XVIII; Karangan Prof. Dr. Azyumardi Azra MA).
      Sumber :
      Kerajaan Melayu Kuno
      Komentar oleh Panji Negeri | 16 Juli 2012 | Balas
      • Jangan lupa, adakah peninggalan bersejarah di tepi sungai Musi..???? Jika kejayaan Kerajaan Sriwijaya berpusat di palembang, mengapa peninggalannya sangat sedikit. Bahkan candi pun nyaris tak ada. Tapi jika kita lihat di sepanjang Sungai batanghari, Jambi, jika akan menemukan ribuan candi disepanjang sungai tersebut yang berjarak 3222 km, membelah dari ulunya di kabupaten darmasraya, Sumbar hingga muaranya di tanjung jabung timur, Jambi. Dan pusat kompleks candi terbesar adalah Kompleks Percandian Muaro Jambi, dengan luas areal 3000 ha..
        Komentar oleh shovia mushaddiq | 30 April 2013
    • KRONOLOGI SEJARAH KERAJAAN ISLAM NUSANTARA
      610 M – Nabi Muhammad SAW diangkat jadi Rasul = (13 tahun sebelum Hijrah).
      610 M – Rasulullah SAW menerima wahyu pertama kali
      615 – 618 M – Rasulullah SAW mengutus sahabat ke seluruh penjuru dunia; Ja’far ibn Abi Thalib ke Afrika Utara, Muadz ibn Jabal ke Yaman dan Arab Selatan, Saad ibn Lubaid ke Eropa Timur, Yusuf ke Kanton/Cina (membangun masjid Kuang Ta bersama warga Cina marga Sui), Abdullah ibn Mas’ud ke Sumatera bersama Qabilah Bani Thoyk (Aceh) dan beberapa orang leluhur Aceh ikut berperang bersama Nabi SAW. Membangun Kesultanan Tace.
      622 M = 1 Hijrah
      625 M – Perkampungan Islam di BARUS, Sumatera = 3 Hijrah.
      627 M – pembangunan masjid pertama di Aceh (bersamaan dengan Masjid Kuang Ta di Canton dan Masjid di San’a Yaman)
      631 – Abdullah ibn Mas’ud berdakwah keliling Sumatera dan seluruh Nusantara.
      632 – 640 M – Sayyidina Ali ibn Abi Thalib berkeliling Aceh, Malayu, Suvarnabhumi, Galunggung, Panjalu, Tarumanegara, Kalingga, Wiratha, dll.
      632 M – Rasulullah SAW wafat = 11 Hijrah.
      648 – 649 M – Kartikeyasingha II memimpin Kalingga bersama Sri Ratu Sima, dinikahkan oleh Sayyidina Ali dan dibimbing bersama Sayyidina Ali + Abdullah ibn Mas’ud.
      650 – 655 M – Di bawah bimbingan Sayyidina Ali terbentuk jaringan silaturahmi Tace, Kalingga dan Tiongkok
      655 M – Saidina Zaid bin Harithah dihantar ke LAMURI, Sumatera = 35 Hijrah.
      656 – 661 M – Pangeran Borosngora, dari Panjalu, Tanah Sunda berangkat ke Kufah belajar Islam.
      662 M – Ramai penduduk Kufah hijrah ke Nusantara.
      664 – 665 M – Hoei Ning menulis Kitab Hinayana, iaitu ajaran Islam tentang Zuhud.
      674 M – Kalingga menerapkan potong tangan pada pencuri, sesuai syariat Islam
      Sumber :
      AKAR MELAYU: KERAJAAN MELAYU ISLAM TERAWAL DI NUSANTARA
      Komentar oleh Panji Negeri | 17 Juli 2012 | Balas
    • Sejarawan Gerini mencatat sekitar tahun 606 M telah banyak orang Arab yang mukim di Nusantara. Mereka masuk melalui Barus dan Aceh di Suwarnabhumi bagian Utara. Selain itu Peter Bellwood (ANU) melaporkan pula bahwa sekitar Abad 5 M (400-an M) sudah ada perkampungan Arab di daerah Aceh sekarang.
      Sekitar tahun 615 M, Rasulullah mengutus ‘Abdullah ibn Mas’ud RA mengantar Qabilah Bani Thoy’ hijrah dan mukim di Aceh. Hal ini sesuai laporan G.R. Tibbets yang mengatakan terdapat kampung Muslim Arab di Sumatera pada tahun 625M.
      Sedangkan sahabat lain, yaitu Zaid ibn Haritsah RA dilaporkan telah berada di Lamuri/Lambari (Lambharo/Lamreh, Aceh) pada tahun 35 H (718 M).
      Pada tahun 607 M telah ada Kerajaan Sriwijaya (Sriboza) yang bercorak Brahminik (Wolters, 1967 dan Hall, 1967 & 1985). Sedangkan di Jambi berdiri Zabaj atau dikenal pula sebagai Javaka pada tahun 99 H (718 M). Nama lainnya adalah Sriwijaya yang telah berdiri sebelumnya dan bertransformasi menjadi Kesultanan.
      Sumber :
      Muamallat Nuswantara
      Komentar oleh Panji Negeri | 17 Juli 2012 | Balas
  6. tulisan menarik, saya juga pernah baca seperti link dibawah ini.
    Komentar oleh Yushadi | 23 Juni 2012 | Balas
  7. quote: “…demikian sabda baginda Nabi: “Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin samudera namanya….”
    Bagaimana penulisan kata samudera dalam hadits tersebut? dengan kata ‘Samudera’ atau kata lain yang berarti lautan/ocean?
    Komentar oleh tabar | 27 Juni 2012 | Balas
  8. Reblogged this on dionbagus.com.
    Komentar oleh dionbagus | 13 Juli 2012 | Balas
  9. jujur bagus bgt nih artikelnya bahasan kemajuan serta sejarah islam masuk indonesia
    tks infonya lanjutkan mari kita sama2 melihat sejarah indonesia y sdh ditinggalkan oleh anak2 mudah zaman skr……
    Komentar oleh upi | 18 Juli 2012 | Balas
  10. dear bang kanzunQalam,,
    ada baiknya juga bg baca sejarah asal muasal kerajaan minang kabau. dimana disitu di tuliskan bahwa kerajaan sriwijaya bukanlah sebuah nama kerajaan, tapi berasal dari kata sri=megah dan wijaya= kemenangan. yang jika di artikan berarti kemenangan yang megah yang di capai oleh dapunta hyang, yg di situ di sebut2 sebagai nenek moyang nya orang minang kabau. nama sriwijaya sendiri dalam prasasti kedukan bukit belum bisa dibuktikan bahwa itu sebuah kerajaan. karena prasasti tersebut masih samar dan belum benar2 bisa di gali lebih dalam. maaf, saya cuma membacanya di buku bg. oleh karena itulah saya sarankan bg membaca juga buku tersebut sebaga bahan penambah dalam membuat artikel2 seperti ini. di dalam buku asal mula kerajaan minang kabau yang saya baca itu dituliskan bahwa kira2 pada abad ke-5 dapunta hyang berlayar dari himalaya mencari sebuah tempat untuk bersemayam dan kemudian dia melihat sebuah pulau yang ketika dia lihat seperti telur itik, dan di atasnya mletup2 dan ketika didekati tahulah dia bahwa itu ternyata sebuah gunung, itulah gunung berapi. di situlah pertama kali dapunta hyang bersemayam karena kepercayaanya dulu masih manganggap bahwa gunung adalah tempat kembalinya para roh. kemudian dia berlayar ke bawah gunung melalu sungai kampar, dan menemukan persimpangan yaitu sungai kampar kiri dan kanan, maka disitulah dia menyebut tempat tersebut “minanga tamwan”, yang berarti pertemuan antara 2 sungai, menurut buku tersebut, kata inilah asal mula nama minang kabau. dan kemudian ia berlayar lagi dan sampai ke pulau punjung dan mendirikan sebuah kerajaan yang bernama darmasraya,sekitar abad ke 7. dan keturunannya berlayar lagi dan sampailah ia ke palembang dan karena keturunan nya itu merasa pelayarannya adalah sebuah “kemenangan yang megah” juga mendirikan sebuah kerajaan yang masih bernama dharmasraya, tapi di dalam prasasti kedukan bukit bukanlah dharmasraya tersebut nama kerjaan itu, melainkan sriwijaya, karena di dalam prasasti tersebut tidak ada di tuliskan tulisan dharmasraya, seingat saya sebuah kalimat prasasti tersebut kalau di artikan,” dapunta hyang datang dengan kemenangan yang megah dan mendirikan sebuah kerajaan.” kalau di fikir2 entah benar atau tidak, disini bisa kita katakan bahwa kerajaan minang kabau/ dharmasraya lah kerajaan pertama yang ada di nusanatara. juga dituliskan di situ batas2 dari kerajaan minang kabau tersebut yang juga mengatakan bahwa negeri champa adalah jajahan dari kerajaan minangkabau tersebut, hal ini diperkuat oleh tulisan2 dari bangsa2 cina, yang saya lupa siapaorang cina nya,,, hehehehe. tapi insyaALLAH buku itu bisa jadi tambahan bagan buat abang,, aminnn,,,,
    Komentar oleh danil | 19 Juli 2012 | Balas
    • dalam pengkajian sejarah haruslah kita mengingat time line. Sriwijaya diperkirakan berdiri pada abad ke 5 – 12 Masehi. Sementara Darmasraya berdiri abad 13 M oleh paman Adityawarman, anak putri Kerajaan Melayu Jambi. (Dara Jingga). Minng kabau baru disebut pada abad ke 15 M setelah Adityawarman memindahkan kerajaan Darmasraya ke Pagaruyung. Minangatanwan tidak ada hubungan dengan Minangkabau. Minangkabau sendiri bukanlah sebuah kerajaan. Tapi lebih mengarah pada adat dan etnik.
      Komentar oleh shovia mushaddiq | 30 April 2013 | Balas
  11. kalo sy percaya itu adala cyprys, ada hadits perang samudera jaman kholifah utsman ra ,ada perang samudera amirnya muawiyah ra
    Komentar oleh dawari | 23 Juli 2012 | Balas
    • boleh juga pendapatmu.
      Komentar oleh Kartto | 20 Agustus 2012 | Balas
  12. Ini bukan hanya hadist dhaif nih.., tapi bukan hadist at all, jika hanya didasarkan dari cerita/tutur suatu daerah.
    Mohon penulis mengganti judul artikel ini…
    Komentar oleh Abu Marjono | 7 Agustus 2012 | Balas
    • Masa sih?
      Komentar oleh Kartto | 20 Agustus 2012 | Balas
      • masalah sahih apa tidak kenapa mesti dhperdebatkan…yang pokok sejarahnya..napa seh ribet amat.susah pak!..sbgai contoh akang dapat smua hadis dari mana?bukankan itu semua melalui karya orang (ulama).yg kita sendiri gak pernah berjumpa ma ulama itu..ada jaminan kalo semua hadis yang sampe ke kita Itu Asli susunan Ulama?kita serahkan pada Allah..Allah yg lebih tau hakikat kbenaran..napa mesti pusing pusing..udah hentikan lagian kita takan menanggung dosa mereka..jangan terlalu Alergi lah..pusing.baca komen nya.
        Komentar oleh Aa | 21 Agustus 2012
  13. Ada, kang Aa. Syekh penyebar islam ini menurut Sejarah Nasional Indonesia diketahui t’lah mengorbankan banyak hartanya utk penyebaran Islam. Jadi, tdklah mungkin hadis ini dha’if.
    Komentar oleh Kartto | 22 Agustus 2012 | Balas
  14. Assalamualaikum…
    buat semua saudara ku… saya sudah mencari mengenai kebenaran tentang surat yang kata nya berasal dari raja sriwijaya kepada Kalifah2 bani Umayah.. ternyata surat tersebut memang berisi demikian. namun berasal dari raja dan kerajaan mana tidak jelas. Hanya tertulis dari raja Al Hind. Sulit bagi kita dgn hanya data yang terbatas tersebut mengarahkan opini pada suatu kerajaan di sumatera. terlalu spekulatif. Saya yakin surat tersebut adalah dari raja di India. berdasarkan fakta Islam masuk dari Yaman-Hadramaut-Pakistan-India (Gujarat)-Champa-Malaka/Melayu-Sriwijaya(Muara Takus Riau atau Musi Palembang). Yang membawa islam dari gujarat adalah klan Azmat khan yaitu Husain Jamaluddin Al akbar sekitar abad 13. Pendahulu nya yaitu moyangnya juga datang diperkirakan abad ke 12. Raja terakhir Sriwijaya yang bergelar Parameswara menjadi raja pertama di kerajaan Malaka setelah terjadi kericuhan di Istana nya dikarenakan beliau masuk Islam dan akibat serangan dari Majapahit serta kerajaan Cola india. Masuk Islam nya Parameswara dan berdirinya Kerajaan Malaka Islam serta merta menggantikan Gelar kebangsawanan dgn corak Islam. ini fakta yg kongkrit yang menunjukkan bahwa sebelum Parameswara yg hidup diabad 13 atau 14, semua masih bercorak budha dan hindu. Prasasti Hujung Langit yang ditemukan di daerah pesisir barat Lampung Barat berangka tahun sekitar akhir abad 10 M masih bercorak hindu/budha jelas sekali. spekulasi bahwa raja sri indrawarman di abad 7/8 M mengirimkan surat jelas terbantahkan. karena sriwijaya tidak pernah berganti corak dari budha/hindu dari abad 7 hingga ke abad 13 M berdasarkan keseluruhan prasasti yang ditemukan bercorak budha/hindu di sekitar Sumatera Selatan, Jambi, Riau hingga Thailand dan dan Kamboja.Perlu diperjelas, surat tersebut tidak tertulis dari Raja Sri IndraWarman dari raja Sriwijaya. hanya menyebut dari raja Al hind. Fakta yang lain adalah ulama2 yang bergelar Al hind yang berasal dari nusantara merujuk bahwa mereka berasal dari negeri hindustan dan memang faktanya sislsilah mereka berasal dari gujarat. Dan kalimat mengenai “hadist” lebih tepatnya dikatakan hikayat tentang negeri tersebut akan diturunkan Allah SWT dgn wali yang terbanyak dibanding daerah manapun… Itu amat2 sumir dan spekulatif. justru sampai saat ini pun kita tidak tahu berapa jumlah waliallah yg ada di nusantara. Bagaimana seorang bisa dikatakan wali? siapa yang menegaskan dan memberikan label tersebut? Kalau dikatakan hanya 9 di tanah Jawa saja… bagaimana di daerah Sumatera dan Malaka yang notabene telah islam terlebih dahulu. Fakta belakangan kita mengetahui wali2 tanah jawa masih turunan dari klan Azmat khan yaitu husein Jamaludin Al Akbar yang makam nya ada di Wajo Sulawesi Selatan. Malik Ibrahim di gresik merupakan keturunannya yang menurunkan wali2 yang lainnya.
    Wassalam
    Komentar oleh Ratu Sahril | 2 September 2012 | Balas
  15. Buat bang Danil..
    Saya cuma sedikit komentar. agak malas mengkomentari sesuatu yang bukan dari fakta. Perkataaan Minanga Tamwan berdasarka prasasti kedukan bukit yang berada Sumsel. Tidak satu Ilmuwan dan sejahrawan pun di muka bumi ini yang menyatakan kerajaan pertama indonesia berasal dari suku minang kabau. Mengenai dharmasraya, itu dikenal oleh sejahrawan bukan pada periode awal berdirinya sriwijaya. itu jauh setelah berdirinya sriwijaya. Bukan hanya karena satu karangan buku orang minang, lantas hampir semua orang minang yang tahu atau tidak tahu sejarah lantas ikut2an membenarkan nya. Perbuatan sejahrawan karbitan ini lebih mirip dengan perbuatan “mengukir air”. Prasasti dan Arkeologi berumur seribu tahun lebih jelas lebih Valid dibanding Tambo yang hanya berumur ratusan tahun. Arkeologi memang banyak ditemukan di daerah Sumatera bagian selatan. Situs Pugung Raharjo di Lampung Tengah dan situs Pasemah di Lahat Sumsel adalah situs prasejarah sebelum zaman hindu budha. hal ini menandakan peradaban jauh lebih tua dari kerajaan mana pun di Nusantara. Bahkan ada benteng sebesar 30 Ha di situs purbakala Pugung raharjo menandakan aktifitas militeristik yang bukan hanya menghindar dari binatang buas. Jika Cikal bakal kebudayaan purbakal ini menandakan aktifitas komunitas manusia yang menjadi pijakan berdirinya kerajaan sriwijaya, hal ini malah makin mendukung dgn keberadaan prasasti2 sriwijaya yang memang banyak ditemukan di Sumsel, Bangka dan Lampung. Namun seringkali saya terkagum2 dgn sifat Chauvinisme saudara2 saya dari suku minang yang gigih membutakan mata laksana mengukir air
    Komentar oleh Ratu Sahril | 2 September 2012 | Balas
    • saya setuju dengan anda.. Jelas jelas ada salah satu prasasti yg mengukir susunan pemerintahan kerajaan tersebut..
      Komentar oleh songket | 3 Oktober 2012 | Balas
  16. stuju ama pndaptnya akang AA…. Btul skali kang,agree 100%…!!
    Komentar oleh delebegh | 18 Oktober 2012 | Balas
  17. Terkait ini banyak kontrofersi, namun saya sebagai anak bangsa Indonesia merasa bangga bahwa Bangsa ini pernah di datangi/tinggal oleh para Sahabat Rasul, wabil khusus kebanggan saya karna saya juga orang SRIWIJAYA.
    Artikel ini sungguh hebat……
    Komentar oleh Meriawan | 23 Oktober 2012 | Balas
  18. Ada hadits nabi yg mungkin berkaitan dgn nusantara tp tidak seperti itu bunyinya :-)
    Mengenai kalingga ( yg mungkin letaknya di gunung lawu ) dan aji saka masih dlm penelitian
    wass. wr wb
    Komentar oleh cuplis | 25 Oktober 2012 | Balas
  19. Jangan Menterjemah perkataan Orang terdahulu dengan sembarangan,,,, coba teliti perkataan apa yg dipakai (bahwa sepeninggalku)itu kalimat yg akan datang sehari kedepan kah 100 tahun kedepan kah maupun 1000 tahun kedepan kita tak tau karna itu maknanya umum,,,tak boleh kita langsung menganggap bukan samudera pasai yg dimaksud,,,kita ikut saja apa yg diriwayatkan oleh orang melayu yg terdahulu,,janganlah kita sok pinter dengan kebodohan kita mengatakan hadist itu salah,,, apakah yg mengatakan salah udah sampai derajat al-hafids?kalau belum diam sajalah,,karna kata2 yg keluar itu terlalu bau,,,.SAMUDRA PASAI, KERAJAAN DARUSSALAM,KERAJAAN JEUMPA DAN LAIN SEBAGAI NYA,,terlalu banyak menyimpan keistimewaan,,,buka lembaran sejarah jangan baru melihat kulitnya saja udah langsung memvonis isi didalam nya,,padahal kita tidak tau isi dalam nya,,,Jangan pernah lupa,,SERAMBI MEKKAH cuma julukan untuk satu tempat ,,Yaitu ACEH bukan Palembang ^_^
    Komentar oleh malik al-biruni al-asykhi | 30 Oktober 2012 | Balas
  20. Barus kota tua yang kondisinya parah sekarang ini.
    Komentar oleh yustian yusad sikumbang | 6 Desember 2012 | Balas
  21. sejak zaman firaun, nusantara sudah menjadi daerah kontributor bagi kerajaan mesir kuno. maka bukan tidak mungkin, masa Rasulullah SAW sangat paham betul dengan Nusantara.
    perlu adanya kajian lebih mendalam tentang sejarah yang sudah terbangun ini.
    permasalahan Hadis, secara akademik sangat diperlukan kajian awal tentang teks yang dibawakan supaya mempertegas kekuatan isi karya tulis.
    bila memang sulit dilacak, cukup dengan memberikan komentar “saya belum mendapatkan sumbernya”.
    Komentar oleh Fatihunnada Anis | 14 Desember 2012 | Balas
  22. semua sejarah pelajarilah/galilah dan buat manfaatnya untuk sekarang. Contoh, kapur barus bukan hanya untuk memummi firaun, tetapi juga untuk alat perang mesiu, mortir dan bom pada perang Dunia I dan II.
    Tanam kembali pohon kapur barus dan buat maju kecamatan tersebut menjadi kota.
    Komentar oleh yustian yusad sikumbang | 12 Februari 2013 | Balas
  23. menarik. meskipun perlu diteliti lagi oleh para ahlu hadits ttg status dr hadits itu apakah trmasuk hadits yg derajatnya mutawattir, dho’if, atw dll. jg hrs dikaji gmn matan nya & siapa2 pe-rawi nya. tp trlepas dr itu smua, jgnlah qt mjd trpecahbelah krn egoisme ke-suku-an qt. qt ini sama2 muslim; Aceh-Barus-Melayu-Minang-Palembang-Lampung bhkan jg Sunda-Jawa-Banjar sampai Maluku-Papua sm2 pny potensi kontribusi bagus buat Islam klw dlihat dr sejarah2 Islam yg brkembang di Nusantara. smuanya pasti disayang oleh Rasulullah krn keimanan yg qt miliki :)
    Komentar oleh Roni fauzan | 5 Juli 2013 | Balas
  24. berdasarkan keterangan ahli bashiroh, bahwa nama Sriwijaya itu pemberian orang Belanda. Sedangkan nama asli kerajaan Sriwijaya adalah Sri Boza islam. Jadi sesungguhnya, kerajaan Sriwijaya itu adalah kerajaan islam di Nusantara.
    Komentar oleh Makmur Hambali | 31 Juli 2013 | Balas
  25. Kalo memang plmbg,mgpa daerah plmbang byk yg gk tau tentang islam
    Komentar oleh Artha wijaya prabuanza | 24 Agustus 2013 | Balas
  26. Assalamu alaikum wr wb.
    Maaf sob jangankan yang sifatnya simpang siur orang udah jelas juga masih banyak yang mengatakan tidak boleh mempercayai…apalagi yang namanya syeh Albany…
    seperti “carilah ilmu sampai kenegri cina”
    Hadits dho’if (lemah), apalagi palsu, tidak boleh dijadikan dalil, dan hujjah dalam menetapkan suatu aqidah, dan hukum syar’i di dalam Islam. Demikian pula, tidak boleh diyakini hadits tersebut sebagai sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantara hadits-hadits dho’if ‘lemah’, hadits yang masyhur digunakan oleh para khatib, dan da’ii dalam mendorong manusia untuk menuntut ilmu dimana pun tempatnya, sekalipun jauhnya sampai ke negeri Tirai Bambu, Cina.
    padahal di lihat dari sejarahnya emang sesuai pada masa itu Nabi Saw. masih hidup (570-632 M) negeri Cina berada di bawah Dinasti Tang yang dipimpin oleh Li Shih Min yang bergelar “Kaisar Tai Tsung” (627-649 M); pada masa itu di Cina sedang pesat-pesatnya perkembangan kebudayaan, kesusasteraan, dan kesenian.
    maka haram kalau ini di katakan hadits apalagi mempercayainya sebagai hadits walau yang interprestasinya hadis itu adalah perkataan, perbuatan, persetujuan oleh rasulullah saw
    wassalmua alaikum
    Komentar oleh hasanwirayuda58 | 3 September 2013 | Balas
  27. sejarah tahun emang benar tapi apakah ada yang meriwayatkan?
    setiap hadits nabi itu ada perowinya? bukan hanya teori dan kronologinya speti contoh di bawah ini
    itu mesti ada perowinya alias yang meriwayatkannya
    Komentar oleh hasanwirayuda58 | 3 September 2013 | Balas
  28. terlepas dari benar tidaknya Hadist tsb yang jelas sekarang FAKTA membuktikan bahwa negri di awan (INDONESIA) mayoritas ISLAM……. ALLOH swt Mengetahui apa yg tidak diketahui oleh Umatnya. Aminnnnnnnnnnn
    Komentar oleh mas kisworo siswojo | 8 November 2013 | Balas
  29. ..begitulah ada nya,meski sampai hari ini,kita hanya tahu dngan sbuah nama,dan nama itu jg,.yg menjadi topik setiap sa,at..Namung tuhan berkehendak lain,smg Sriwijaya benar2 ada dan selalu menjadi mysteri,sepanjan Zaman
    Komentar oleh RadityaNugraha.salaka | 10 Desember 2013 | Balas
  30. Ass. Wr, wr,
    Saudara2ku semuanya, sebangsa, setanah, air dan seiman dan seaqidah, maupun yg diluar aqidah kita, saya hanya dpt menghimbau, hargai tulisan diatas yang kalo kita baca teliti, sangat membantu kita dlm memahami sejarah negeri kita tercinta, baik yang menulis maupun yang memberikan komentar, semuanya sama2 benar, semuanya menambah wawasan khazanah sejarah bangsa kita, baik itu bangsa Melayu, jawa, aceh, minangkabau, arab, semuanya bagian dari bangsa ini, masih banyak lagi yag belum dibahas, termasuk suku2 lainnyanya, dibelahan bumi pertiwi ini, janganlah kita saling membantah, tapi cobalah saling isi mengisi dalam menuliskan sejarah perjalanan bangsa yang sangat kita cintai ini,
    Saya sebagai seorang anak bangsa yang sngat mencintai sejarah bangsa ini, tidak memandang suku ataupun kelompok lainnya, semuanya memang mempunyai perjalanan sejarahnya masing-masing, sehingga memperkaya budaya bangsa yang kita cintai ini yaitu NKRI, Tulisan diatas maupun yang memberikan komentar diatas, saya ucapkan terima kasih, sdh menambah wawasan saya dalam memahami perjalanan bangsa kita, ini, Bagi penulis silahkkan lanjtukan karya karya saudara, dan yang lainnya selamat melanjutkan karya anda juga,
    terima kasih
    Anak BAngsa di Medan
    Komentar oleh Aqila | 18 Desember 2013 | Balas
  31. Mohom Maaf para komentator…
    apapun yang datang pada diri kita kalau kita berilmu insyaallah pasti kita tau apakah itu baik atau tidak, dan jangan khawatir akan Alquran dan Hadist, Malaikat Jibril penjaganya, Allah SWT menciptakan Jibril yang wujudnya dengan enam ratus sayap antara masyrik dan maghrib, ( barat – timur ) sayap dan busana kebesarannya putih laksana mutiara yang larut, dengan rupa yang begitu elok dan rupawan, dan dengan kekuatan yang dahsyat penuh mukzijat. Tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Masuk kedalam Islam secara menyeluruh, insyaallah selamat. Mohon maaf atas komentar saya.
    Komentar oleh an2d | 19 Januari 2014 | Balas
    • SAMUDRA PASAI.
      Komentar oleh Idham | 24 Februari 2014 | Balas
  32. Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara pada tahun 1980 mengukuhkan bahwa Peureulak (Aceh Timur) sebagai tempat pertamanya masuk Islam di nusantara..
    Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah (840 – 864 M) merupakan Raja Peureulak pertama sejak Kerajaan Peureulak menjadi Kerajaan Islam.
     Lihat selengkapnya disini

Misteri Bukit Barisan dan Ajaran Monotheisme Nabi Ibrahim Di daerah sekitar  Pagar Alam, Sumatera Selatan , ditemukan sebuah  arca menhi...